Purwadi87’s Weblog
Just another WordPress.com weblog

Nov
14

Berat dan Ringan

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Sebuah kisah unik yang terkait dengan ayat diatas, ada seorang kakek tua yang ikut berperang, lalu ada seorang anak muda melarangnya karena fisik kakek tersebut dinilai sudah tidak lagi mampu untuk ikut berperang. Namun kakek itu tetap ingin berperang dan menjawab dengan ayat diatas. Subhanallah, sebuah tekad dan niat yang keras ketika ia membaca dan mengimani ayat tersebut.

Dalam sebuah proyek-proyek kebaikan memang terkadang ketika proyek itu dihadapkan kepada kita maka kita akan merasa berat ataupun ringan dari segi manapun, entah itu fisik, finansial, ataupun keluarga yang ditinggalkan. Bahkan logika sekalipun. Masih ingat cerita pemindahan kiblat dari masjidil aqsha ke ka’bah dn kisah ini tertulis dalam Al Qur’an

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Membayangkan sebuah kecintaan beberapa para pengikut Muhammad SAW saat itu, terutama orang2 yahudi dan nasrani yang mengagung-agunggkan tanah suci itu, namun Allah SWT menyuruh mereka untuk berpindah kiblatnya ke arah Makkah. Merupakan ujian yang berat bagi mereka, bagi yang tidak menaati perintah Allah, maka mereka keluar dari agama ini. Atau ujian yang berat pula bagi kaum2 muhajiriin ketika kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran mereka harus dikorbankan demi kecintaan terhadap dakwah ini, terutama kecintaan terhadap perintah Allah SWT melalui Muhammad SAW.

Ya kondisi berat dan ringan dalam melaksanakan sebuah tuntutan kewajiban dalam agama, akan melatih kita untuk menjadi manusia-manusia yang ikhlas. Bisa jadi sebuah syari’at/perintah Allah akan terasa berat bagi seseorang dalam kondisi tertentu dan terasa ringan bagi yang lain, namun berat ataupun ringan syari’at/perintah itu haruslah dilakukan. Bersyukur Allah memberikan berbagai kemudahan kepada kita dalam menjalankan perintahnya, agar kita sebagai manusia tetap bisa taat di kala sempit maupun lapang. Wallahu’alam

Okt
29

Sebenernya nggak suka cuma asal nyuplik aja.. tapi ini dasar dari Khilafah tersebut.  Dari jamaahmuslimin.com

Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah

1. Landasan

1.1. Al Quran

a. surat Al Anbiyaa : 107 ( Misi Islam rahmatan lil A’alamin)

b. surat Saba : 28 (Misi Islam rahmatan bagi segenap manusia)

c. surat Ali Imran : 102 – 103 ( kewajiban menegakkan Islam secara berjama’ah)

d. surat Asy Syuraa : 13 ( perintah menegakkan dien dan larangan berpeah belah)

e. surat Al Mujadalah : 22 (Kedudukan hizbullah)

f. surat Al Maidah : 54, 55, 56 (Kriteria Hizbullah)

g. surat An Nisaa : 59 ( Kewajiban t’at pada Allah, RasulNya dan Ulil Amri kalangan ummat beriman )

h. surat Ar Rum : 31( berfirqah firqah dalam dien termasuk musyrik)

i. surat An Nuur : 55 ( Allah menjanjikan berdominasinya fase kekhilafahan bagi yang beriman dan amal sholeh )

j. surat At taubah : 111 ( Melaksanakan Islam, konsekwesinya harus bertransaksi dengan Allah dalam bentuk bae’at untuk menjual diri dan harta dalam jihad di jalan Allah yang akan ditukar dengan sorga Allah )

1.2. Al Hadits

a. Sabda Rasulullah SAW ketika akan mengutus duta duta kepada para raja dan penguasa : :Sesungguhnya aku diutus untuk sekalian manusia dan rahmat bagi sekalian alam”

b. “Wajib bagi kalian mengikuti pola (sunnah) ku dan pola (sunnah) Khulafaa Ar Rasyidin Al Mahdiyyin ( HR. Ahmad dari ‘Irbadl bin Sariyah, Musnad Ahmad juz IV, Sunan Abu dawud Juz IV : Kitabus Sunnah)

c. Al Khilafah di kalangan ummatku 30 th. ( HR. Abu Dawud da Tirmidziy , Jami’ush Shohieh, kitabul Fitan, bab : Maa Jaa-a fil khilafah)

d. Datangnya periode kekhilafahan berpola kepada sunnah kenabian ( Musnad Ahmad, juz IV, bab Al indzar wa tahdzir)

e. Lima perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW : Bil jama’ah, bis sam’I,wat tha’ah, wal hijrah wal jihad fi sabiilillah ( HR. Ahmad, Musnad Ahmad , juz IV)

f. Perintah luzumul jama’ah ( HR. Al Bukhoriy, Muslim,Ibnu Majah, kitabul Fitan)

g. Ancaman meninggalkan system berjama’ah : mati jahiliyyah (Shohieh Bukhory dan Muslim, dari Ibnu Abbas bab amr bi luzumil jama’ah/kitabul Fitan )

1.3. Atsar Shahabat

Sahabat ‘Umar bin Khoththab : “Tidak terwujud Islam kecuali dengan berjama’ah”.

2. Pengertian

2.1. Secara bahasa

Al Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah

Khilafah : pergantian, estafet kelanjutan

Al Khilafah : pergantian dengan batasan tertentu

‘ala : berdasarkan

minhaj : pola, methode, jejak

Nubuwwah : bersifat kenabian

2.2. Secara istilah

Al Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah

Periode atau system kepemimpinan pelanjut dari system kepeminmpinan sesudah wafatnya Nabi Muhammad Shallalaahu ‘alaihi wa sallam yang berpola mengikuti / atas dasar pola sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Okt
25

Hidayah merupakan nikmat Allah yang mulia bahkan tidak semua orang mampu mendapatkannya..Bahkan sebuah cerita, Rasulullah meminta kepada Allah agar pamannya di saat sakaratul maut mampu menlafalkan syahadat namun Allah menegur kepada beliau bahwasannya hidayah hanya milik Allah..

Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang (An Nahl 82)

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (Yunus 25)

Allah menurunkan hidayah kedalam hati2 orang yang ia pilihkan. Namun bagaiamana Allah menurunkan hidayah?

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al Israa’ 15)

Suatu kajian seorang ustadz mengatakan, mungkin, Allah memilih Umar Al Faruq dibanding Abu Jahal untuk menjadi pelindung (tokoh) Islam karena Umar tidak memiliki sejarah membunuh orang2 shalih. Sedangkan Abu Jahal banyak sekali membunuh orang2 shalih.. wallahu’alam

Nah mengenai dengan bagaimana orang2 yang merasa belim mendapat hidayah sehingga nggak mau berjilbab tadi. Sesuai ayat Al Israa’ tadi. Dia harus melakukannya sendiri karena Allah, bukan karena siapapun. Ada usaha menjemput dan merindukan hidayah Allah, ada sebuah usaha pertaubatan, usaha untuk mendekatkan diri padanya. Ketika kita mendekatkan diri kepada Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendekat kepada kita dengan berlari.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa’idah 35)

Sungguh manusia itu memiliki sifat pendusta pada nikmat Allah kecuali orang2 yang beriman dan bertakwa

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Ayat ini diulang2 samapi 30 kali lebih dalam surat tersebut. Untuk mengingatkan manusia. Allah tidak akan hina ketika semua manusia kufur kepada Nya, dan juga sebaliknya, Dia tidak akan menjadi lebih tinggi bila semua manusia beriman kepadanya.

Allah memberikan kita nikmat setiap saat. Pernahkan kita menghitung nikmat bernafas, sudah berapa kali kita bernafas. Pernahkah Allah menuntut setiap nafas yang Ia berikan sebuah imbalan untuk Nya? Bayangkan bila Allah mencabut nikmat bernafas 3 menit saja, apa yang akan terjadi pada diri kita? Namun ketika Allah meminta makhluqnya untuk shalat, menaati segala syari’atnya, manusia tidak mau beribadah kepada Nya. Ibadah juga salah satu bentuk syukur kita tehadap nikmat2 Allah. Kita juga tidak akan pernah tahu, kapan Allah akan mencabut nyawa ini. Orang yang paling merugi bila nyawa ini dicabut ketika kita dalam keadaan kufur kepada nikmat2 Allah. Maka bersegeralah dalam kebaikan karena Allah..

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya (Al Mu’minuun 60-61)

Sep
08

Sebuah karya tulisan cukup mengasyikkan untuk dibaca terutama mengenai bagaimana menyikapi sebuah idealita yang dibenturkan dengan realita.. ya mungkin teman2 bisa menyimaknya, terutama sebagai seorang muslim yang ingin mengamalkan Islam seutuhnya..

Dalam galau gelisah di awal2 risalah, ketika wahyu turun bertubi-tubi menimbunkan amanah yang kelak mengubah sejarah, Khadijah membawa suaminya menemui Waraqah ibn Naufal. Lelaki tua dan buta itu sepupu Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani yang begitu khusyu’, pernah menulis injildan buku dalam bahasa ibrani. Khadijah memintanya menakwil kejadian yang dialami sang suami.

“Apa yang telah engkau lihat wahai putera saudaraku?”, tanyanya. Lalu Sang Nabi pun mengisahkan apa yang dialaminya di Gua Hira’.
“Ini adalah Namus yang diturunkan Allah pada Musa.”, tutur Waraqah setelah menyimak kisahnya.”Andai saja aku masih muda pada masa itu. Andai saja aku masih hidup pada saat mereka mengusirmu.”
“Benarkah mereka akan mengusirku?”
“Benar. Tak seorangpun pernah membawa seperti apa yang kau bawa melainkan pasti akan dimusui. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh.”

Dari keterasingan agama ini bermula, dan kepada keterasingan ia kembali. Dunia begitu heran dengan keterasingan para penggenggam agama di jalan cinta para pejuang. Sejak dahulu, dunia memandang takjub cara hidup bertauhid. “Apakah tuhan itu hendak dijadikan satu saja? Ini adalah perkara yang mengherankan!”, kata mereka. Tentang RasulNya yang mulia,mereka berkomentar, “Rasul macam apa ini yang memakan hidangan dan berjalan di pasar-pasar?”. Dan semakin geleng kepala mereka menyaksikan perangkat-perangkat agamanya yang mencengangkan.

Dan kinipun, dunia memandang aneh jalan cinta kita. Betapa aneh nikah tanpa pacaran, jilbab lebar menutup berkibar, jenggot yang rapi peni, cita-cita untuk mati, dan tak inginnya hidup menghamba pada kepentingan adikuasa yang telah menjadi kiblat dunia. Jalan cinta pejuang betul-betul jalan yang asing.

Dan keterasingan itu berbuah penentangan. Yaitu ketika dari jalan cinta pejuang kita bergerak,berusaha mengubah wilayah-wilayah publik yang diyakini penuh kerusakan dengan manhaj (pedoman) yang jelas dan terang untuk menyelamatkantatanan dunia. Kita akan mendapati kesangsian, penentangan, dan perlawanan. Atau juga simpati, kekaguman, dan pujian yang hanya sebatas itu. Salut tanpa dukungan. Kesemuanya terasa bagai mengenggam bara di telapak tangan. (Jalan Cinta Para Pejuang)

Ya, kita memang berasal dari asing dan akan kemabli pada keterasingan namun tugas kita bukanlah mengasingkan diri, justru tugas kita adalah menybarkan agama ini dengan hikmah dan dengan cara2 yang baik.. Kita asing bukan mengasingkan diri.. Itulah bagaimana menyikapi realita dan idealita.. Wallahu’alam

Sep
03

Lindungi hambamu ya Allah SWT dari godaan syetan yang suka membisikkan keburukan ataupun sedikit sekali kebaikan namun diiringi oleh banyak keburukan..

Ya hampir tiap generasi menanyakan hal ini. Bahkan ketika ngasi surat kemaren, ada pertanyaan ini, yang digunakan untuk menghidari diri dari acara ini.. “saya gak punya ilmu mas, jadi gak bisa berdakwah..”

So mana yang duluan antara dakwah sama ilmu.. kayak ayam sama telur aja yah

Usut punya usut… mencari dan terus memikirkan, bahasa apa yang bisa dipakai.. akhirnya menemukan perumpamaan yang cukup bisa menggambarkan. Nah disini saya meminta sebuah kritikan, apakah pemikiran ini “menyesatkan”/tidak sesuai, atau bisa dipakai??

Dakwah dan ilmu itu seperti bola basket (entahlah mau bola sepak atau bola tenis atau yang lain sama aja asal ada unsur kulit dan udara).. Nah waktu kecil sering tuh main bola tenis buat mukul2 sasaran. Perumpamaan maen basket, kalo maen basket atau bola sepak, para pemain pasti akan mengukur kualitas bola yang akan dipakai.. biar menang dan merubah poin
Kulit bola itu seperti dakwah dan ilmu seperti udara yang mengisi dalam bola.. Seandainya kita sebagai manusia memiliki tugas untuk mengajarkan dan menyebarkan agama ini, maka bisa diibaratkan kita sedang maen “lempar bola untuk menuju sasaran”. Kalo bahasa jatimnya “titis-titisan”. Nah sasaran itu harus bisa kena dan “berubah”..
Sebenernya kita mau buat bola atau buat udara? Ya benar kita ini mau buat bola, bukan buat udara, udara udah ada dan bola kita yang buat.. Sama.. Kita nggak bisa membuat ilmu Islam, ilmu itu sudah diturunkan Allah SWT secara sempurna, nah tugas kita sebagai manusia menyusun kerangka dakwahnya..

Masih ingat konsep Nahnu du’at qobla kulli syai’..(kita adalah da’i sebelum segala sesuatu).. Hal ini berlandas pada sebuah surat yang intinya “kuntum khaira ummah uhrijat linnas, ta’ muruna bil ma’ruf wa tan hauna anil munkar..”
Ya niat kita adalah bikin bola dengan tujuan “merubah” sasaran… Gak bisa kita menghancurkan atau “merubah” sasaran hanya dengan angin tanpa membuat bola.. Kecuali pakai rasenggan (film naruto), menghayal kali di dunia nyata. Kalo kata akh dodi, jaman kita bukan lagi jaman abrahah.. Pertolongan Allah SWT datang kalo kita juga berusaha..

Nah kembali lagi sebentar kepada logika maen basket.. Kalo maen basket tujuan kita adalah merubah poin.. Kalo poin kita bertambah penonton dan pemain senang, dan musuh marah. Kalo poin stagnan atau berkurang kita sedih atau kena skorsing, musuh senang dan menang. Nah dalam merubah poin, kondisi bola juga sangat penting dan berpengaruh besar..

Nah bola yang digunakan untuk mengenai sasaran (ring basket) juga berpengaruh
Semisal ada 3 kondisi bola:
1. Kulit bola gak kuat dan angin kencang/kebanyakan angin.. Meledakk tuh bola, jadinya penonton kaget, dipantulin ke ring tiba2 meletus, anginnya kebanyakan dan targetnya gak sesuai, atau bisa menciderai pemain juga, kena mukanya karena pantulan bola yang keras serta pemain gak siap (pengalaman pribadi)
2. Kulit bola ada namun angin kurang.. jadinya kempes, mau nepatkan ke ring susah, mau merubah poin juga sulit. Sasaran jauh butuh tenaga ekstra mau ngelempar, akhirnya bolanya dibuang aja di pinggir lapangan, gak diperhatikan
3. Kulit bola dan anginnya pas, mantulnya enak, dipegang juga pas di tangan, dilempar sip, tepat sasaran. Pemain bersemangat.

Nah gitu dakwah dan ilmu

Sudah jelas tujuan kita adalah bukan hanya ilmu, kalo tujuan kita ilmu, gak jauh beda dengan syethan yang justru lebih berilmu dibanding manusia (syethan ada yang hafal Al Qu’an, hafal sirah, tau segalanya di masa lalu/datanya lebih lengkap) ..

Namun tujuan kita mengajak manusia.. dan ilmu wajib mengikuti
Seperti kata mas Aldi, dalam berdakwah bukan benar dan salah, namun tepat dan tidak tepat (“racikan” kulit bola dan angin itu pas)

Kondisi bola pertama seperti orang yang ilmunya banyak namun diiringi dengan kulit yang gak kuat, bikin orang sekitar kaget, yang kena letusan kulit bola bisa marah. Kita bisa lihat di desa2 pengusiran temen2 yang sebenenya bener namun dalam berdakwah belum tepat sehingga diusir dari desa, ada yang marah, kita cuma prihatin..

Kondisi bola ke dua. orang2 yang bersemangat dalam berdakwah namun ilmu pas2an.. ya susah mau merubah poin, apalagi kalo kulitnya udah jelek dan anginnya kurang, wah gak ada tuh pemain yang mau pakai bolanya. Kalo disuruh merubah poin susah. Sama jadinya mau merubah kondisi mad’u jadinya sulit. BIsa sih, tapi mad’u yang lebih “mudah”.. Kayak jadi guru ngaji, ngajar baca tulis Al Qur’an dll, meskipun seharusnya guru TPA lebih dari itu standarnya, dia harus memberikan pendidikan yang lebih kepada adik2 yang masih sangat muda

Kondisi 3 nah ini, dakwah yang tepat dan benar. (Racikan kulit yang kuat, enak dipegang, serta kondisi angin yang pas, sesuai dengan tinggi ring dan bahan papan ring basket, so mau merubah poin, sudah gak susah lagi.) Mau merubah masyarakat insyaAllah pertolongan Allah SWT datang.. wallhu’alam bish showab

Semoga ada kritik dan saran dari tulisan saya ini.. dan kembali di awal, kita memohon perlindungan dari godaan syeithan yang terkutuk. Karena syeitan dalam menggoda kadang saking pinternya kita anggap itu adalah kebaikan. Bahkan syeithan pernah juga mengajarkan sahabat sebuah kebaikan namun itu hanya satu dari beribu2 keburukan yang ia ajarkan. Bujuk rayunya sangat halus dan menipu kita. (masih ingat cerita bagaimana syiethan mengajarkan manusia berlindung dari syeithan dengan bacaan surat kursy)

Agu
30

Sebagai orang muda yang masih penuh dengan semangat (entah apa lebih tepatnya adalah ketidakhati-hatian), di masa muda ini dan di zaman serba era modern ini, segala sesuatu mampu kita akses lebih mudah dibanding sebelumnya. Mau internet cepat sekarang tinggal pasang, pakai HP pun bisa, kalo dulu, mau cari berita aja mesti langganan koran dulu nunggu jam 6-8, kalo korannya gak datang kita komplain. Nah sekarang tinggal ketik korannya dan klik, muncullah berita2..

Saat ini pun media komunikasi juga sangat mudah. Kalo dulu mau ke rumah akhwat jam 9 pasti pada sungkan dilihat banyak orang, nah sekarang godain akhwat bisa kapan saja,  lewat sms tengah malam, chatting, dll.. Kalo boleh berpendapat, memang nggak ada larangan nash yang jelas mau sms akhwat kapanpun aja, namun kita punya sebuah budaya yang juga dijunjung tinggi, dan akhirnya budaya itu pula menjaga hati kita dari kotoran yang nggak perlu. Sehingga membatasi interaksi sebelum hal itu diperbolehkan adalah wajib hukumnya

Yah ini adalah sebuah fenomena uni. Wajar lah seorang elaki tertarik kepada seorang gadis, atau sebaliknya. Seperti kisah Yusuf dalam Al Qur’an. Namun Yusuf akhirnya sadar bahwasannya di memiliki Allah yang Maha Melihat, Maha Mengetahui Isi Hati tiap makhluqnya, Ia pun tahu apakah hati kita sedang bersih atau terkotori. Sehingga patut ketika Rasulullah bersabda, iman bagaikan sebuah pakaian yang kita pakai, ia akan lusuh, dan perlu kita perbarui, sehingga perbaruilah imanmu..

Nah godaan2 itulah yang sering melanda para pemuda, apalagi yang mengaku sebagai pejuang ISlam. hal ini bisa melemahkan mental juang para pemuda. Mereka bergantung pada orang lain (baca:akhwat) dan menaruh harapan besar kepada kaum hawa tersebut, padahal sebuah harapan dakwah datangnnya dari Allah SWT semata.

Sungguh saya salut kepada para pemuda yang berani bertanggung jwab.. Ia bertanggung jawab atas segala yang dipilihnya. MAsih teringat MUhammad Al Fath. Ia memimpin perang pada umur 24 tahun dengan pasukan tempur yang sangat banyak dan kuat. Bahkan para ulama menganggap ia adalah panglima terbaik dengan pasukan terbaik di jamannya. Sungguh sebuah kedewasaan berpikir yang sangat bombastis. Bayangkan 24 tahun bisa memimpin sekumpulan dan bahkan ribuan pasukan, namun saat ini. Kita banyak bergantung pada orang tua, umur 24 memimpin sebuah organisasi pun masih belum matang, berbagai keperluan kita masih bergantung kepada yang lain. Akhirnya dengan kondisi yang serba kekurangan itu ia nekat untuk menikah tanpa sebuah perencanaan mandiri yang matang. Sungguh kata ust Faudzil Adhim itu adalah hal yang memalukan bagi seorang ikhwan.. Ya lebih baik menahan diri dulu aja dibanding menikah namun masih tidak mampu melepas ketergantungan kepada kedua orang tua.

Saya kagum dengan murabbi pertama saya. Ia menikah di usia sekitar 23 tahun dan ia memiliki tekad untuk mengurangi “subsidi” dari orang tuanya. Ia menikah dengan sebuah visi yang mulia, dan menghidarkan godaan adalah sebuah kemudahan bagi orang yang sudah menikah dan setia kepada pasangannya. Beliau sangat tegar, permasalahan keuangan sering melanda, namun dengan kegigihan beliau, Allah memberikan jalan termudah baginya.

subhanallah.. Barang siapa menolong agama Allah maka Allah akan meolongnya. Itu janji Allah yang akan selalu ditepati, dan Allah tidak pernah mengingkari janjinya

Agu
29

Paradigma masyarakat mengenai arti cinta sudah jauh dari arti cinta yang agung dan sebenarnya. Cinta di artikan bagaikan tergila2 oleh sesuatu yang ingin dimiliki, atau sering disebut jatuh cinta, atau juga cinta buta, falling in love, dll. Cinta dalam otak bangsa ini bagaikan sesuatu hal yang membuat hati menjadi luluh, lemah dan tidak berdaya dibuatnya.. Karena cinta semua orang melakukan segalanya, sehingga jadilah budak2 cinta.

Budak cinta akan menganggap bahwa ketika kita mencintai sesuatu maka kita harus memiliki, dan menjaganya agar tidak rusak atau pecah.  Semisal ktika kita mencintai laptop kita, maka kita akan diperbudak oleh laptop itu dan menjaganya dengan berlebihan.. Manusia akhirnya menyandarkan cinta pada dunia dan seisinya, menyandarkannya pada mahluk Allah yang pasti akan mati dan musnah..

Bahwasannya bangun cinta, itu ibarat ketika kita membangun sebuah gedung yang tinggi. Gedung itu akan kita bangun untuk mencapai tingkatan langit tertinggi, untuk bertemu Sang Maha Mencintai MakhluqNya. Kita bangun gedung itu dengan pondasi (aqidah) yang kuat lalu dengan batu bata pilihan, semen pilihan, pasir yang juga pilihan, setelah itu kita bangun bertahap bangunan itu dengan takaran yang tepat (tawazun) dan ketulusan hati (ikhlas) dalam membangunnya. dan akhirnya ketika kita membangun bangunan itu dengan tekun dan kerja keras maka kita akan sampai di langit tertinggi dan bertemu dengan yang kita cintai..

Sungguh agung makna cinta yang Allah berikan kepada makhluqnya, jauh dari sebuah kecintaan pada dunia semata dan hawa nafsu sehingga kita bisa menjadi manusia-manusia dengan sebuah kekuatan “lebih” dibanding manusia yang lain. Kita berdakwah bukan karena sebuah perintah ansich namun kita berdakwah karena kita cinta dengan dakwah. Sehingga perasaan cinta yang Allah katakan dan para Rasul dan Sahabat contohkan adalah sebuah cinta yang membangun, bersemangat, dan bergelora. Cinta itu bukan sebuah kata sifat namun kata kerja. Ketika seorang ayah mencintai keluarganya, maka ia wajib memberi nafkah, melindungi, dan memberikan kasih sayang. Ketika seorang ibu cinta kepada anaknya, maka disapihlah anak itu dengan ASI yang berasal dari makanan halal, merawatnya dan memberikannya pendidikan yang benar. Ketika seorang mujahid mencintai Allah dan RasulNya maka ia akan berjuang dan berperang untuk menolong dan membela Agama ini sehingga ia hadir di Surga dengan orang2 yang ia cintai..

Sungguh Agung makna cinta jauh dari kisah Romeo Juliet atau Laila Majnun.. Jauh… Jauh… dari itu.

Di Jalan Cinta Para Pejuang aku Berjuang

Agu
26

Sudah terhitung 63 tahun proklamasi kebangsaan kita.  Sudahkah kita merasakan sebuah perwujudan harapan founding fathers bangsa ini. Merujudkan bangsa yang adil, sejahtera, makmur dan bermartabat di mata dunia. Indonesia memiliki berbagai potensi, mulai dari sumber daya manusia, alam, dan kebudayaan. Mulai dari itu para pendiri bangsa yakin bahwa bangsa kita akan menjadi bangsa adidaya di suatu saat nanti.

NAmun 63 tahun telah berlangsung, permasalahan bangsa ini tidak kunjung mereda, namun muncul satu per satu sebelum masalah yang sebelumnya terselesaikan. Bahkan kita lihat dari sisi kesehatan, misal polio, dahulu pernah di klaim bahwa Indonesia bebas dari polio, namun di tahun 2000an, INdonesia terjangkit kembali penyakit ini. Program yang dulu pernah berjalan akhirnya di jalankan kembali. LIhat di tahun 2006, setelah aceh di akhir 2005 muncul gempa jogja, lalu disusul lumpur lapindo, dan ketiga bencana itu programnya belum terselesaikan sampai sekarang, ya mental bangsa INdonesia, kalo udah lihat duit, tangannya gak bisa diam dan ingin ikut mengambil uang yang haram itu.

BAngsa INdonesia sudah buruk dari sisi moral, sistem pendidikan kita yang mementingkan sisi kognitif dan mengabaikan etika dan agama mulai menjadi sorotan tajam, namun tetap, orang2 yang berusaha agar nilai2 agama tidak masuk dalam sistem pengajaran di Indonesia. BAngsa ini cukup diajarkan syahadat, shalat, baca qur’an, haji, dan puasa, beruntung kalo bisa zakat. Nah kurikulum di bangsa kita berkutat pada hal2 itu2 aja gak lebih. Agama dipisahkan dari kehidupan kalangan muda INdonesia.

Akibatnya korupsi menghambat kemajuan bangsa ini, etos kerja yang buruk juga menurunkan prestasi bangsa dll. Kita berkoar2 berkiblat pada eropa, padahal keajuan eropa dahulu berkiblat pada budaya Timur (Islam). Nah anehnya di Indonesia, kemajuan ISlam sesegera mungkin dihambat danditekan, banyak kepentingan bangsa asing di setiap gerakan penghambatan terhadap ISlam. Ini sungguh memprihatinkan, tidak sedikit ummat Islam yang juga terprovokasi dengan tindakan2 ini..

Ya di tulisan ini memang baru sekedar wacana, saya belum memberikan solusi mantap mengenai permasalahn bangsa yang satu ini. Ingat udah 63, padahal banyak negara2 yang merdeka setelah INdonesia namun mereka lebih maju dibandingkan kita. Jepang di tahun yang hampir sama NAgasaki dan Hirosima di bom, padahal kedua kota itu merupakan tumpuan perekonomian Jepang di saat itu, namun mereka dapat bangkt dengan cepat dengan semangat yang besar untuk memajukan bangsa.

Agu
24

Gadjah Mada, Sukarno, Mahatma Gandi, Muhammad Al Fath, Muhammad SAW, dll..

Diatas merupakan berbagai contoh orang2 yang memiliki visi besar, mereka memiliki impian2 atas apa yang mereka perjuangkan. Dengan kondisi keterpurukan yang dialami masing-masing zaman. Mereka bisa tetap survive untuk mewujudkan cita-citanya. Membangun sebuah perbaikan kondisi bangsa.

BAngsa Indonesia saat ini kehilangan mimpinya. INgin seperti apakah bangsa kita saat ini. MAsih banyak orang-orang yang terlelap dalam tidurnya yang panjang. Mereka tidak sadar berbagai permasalahan yang melanda bangsa ini dan hanya menikmati kehidupan dunia dengan bersenang-senang. Sungguh sebuah hal yang tidak mustahil dilakukan ketika NAgasaki dan Hirosima di Jepang di bombardir oleh Amerika, namun mereka tetap bisa bangki. Bangsa Jepang memiliki impian yang sama, mereka ingin mewujudkan impian itu bersama-sama. Sedangkan bangsa kita, karena begitu luasnya atau begitu banyaknya warga INdonesia sehingga untuk menyadarkan dan menyatukan sebuah impian sangat sulit

Beberapa orang di negeri ini seperti hewan peliharaan. Mereka makmur namun tidak merdeka. Mereka disuapi terus oleh majikannya sehingga mereka terlena ada sebuah hal penting yang hilang dari dalam diri mereka yaitu sebuah kemerdekaan. Coba bayangkan semisal kita adalah harimau2 INdonesia yang hidup di sebuah hutan, namun beberapa harimau besar itu ditangkap dan dikandangkan lalu mereka dijinakkan oleh majikannya dengan diberi makan dsb. Setelah itu harimau2 peliharaan itu disuruh untuk menyakiti harimau lainnya oleh majikannya. Akhirnya majikan itu mampu menguasai hutan itu dengan mudah.

Mungkin itu kondisi bangsa kita saat ini. Konglomerat2 di INdonesia berafilisasi dengan berbagai perusahaan asing dan menguras kekayaan kita untuk diberikan kepada asing, sedangkan rakyat Indonesia dalam kondisi memprihatinkan. Kita harus segera bangkit menjadi seekor harimau yang merdeka, kuat dan tidak mudah untuk ditaklukkan oleh orang2 yang ingin memperalat kita untuk menyakiti bangsa ini.. Allahuakbar..

Agu
22

Persepsi bahwasannya mahasiswa kedokteran atau kesehatan adalah mahasiswa yang apatis dan tidak peduli dengan kondisi sosial karena saat ini begitu padatnya jadwal kegiatan mahasiswa FK sehingga mereka sendiri tidak memiliki waktu untuk berorganisasi. Menjadi mahasiswa individual, mengejar “impian pribadi”, menumpuk kekayaan, dll.

Padahal kita tahu permasalahan kesehatan bangsa ini sangatlah kompleks. Bagaimana mungkin bila permasalahan ini hanya dipikirkan orang per orang tanpa sebuah kerjasama (‘Amal Jama’i). Tidak ada sebuah koordinasi dan kesamaan tujuan antar mahasiswa kesehatan, sehingga mereka sulit mencapai tujuan yang diharapkan. Proses diskusi dan mengkritisi pendapat sangat kurang sehingga mahasiswa FK sulit menjadi mahasiswa kritis dalam menghadapi permasalahan kompleks.

Fakultas Kedokteran seharusnya memberikan sebuha ruang bagi mahasiswa untuk berorganisasi dan sebuah motivasi positif bagi para mahasiswa agar mereka mampu berekspresi dan belajar berorganisasi dengan baik. Tidak mungkin kita di masyarakat nantinya akan mengatakan kepada masyarakat “maaf saya baru belajar berkoordinasi dan komunikasi, sehingga program ini tidak berjalan lancar.” Saya yakin dia akan dijauhi oleh masyarakat, beruntung sekali masih ada masyarakat yang menampungnya dan memberikan pengalaman mereka.

Sehingga bisa kita petik sebuah kesimpulan bahwasannya aktif dalam organisasi mahasiswa ketika masih aktif adalah sebuah hal yang positif. Beberapa hal penting yang bisa kita peroleh:

1. Meningkatkan rasa sosial

2. Menambah pengalaman mengenai peningkatan solidaritas

3. Meningkatkan kemampuan manajemen mahasiswa

4. berusaha untuk menjadi makhluk yang seimbang di berbagai hal,  ketika menghadapi permasalahan pribadi maupun dengan orang lain.

5. Menambah jaringan lokal maupun nasional

Ya mungkin itu beberapa hal yang bisa kita dapatkan ketika menjadi seorang aktivis di FK. MAhasiswa FK adalah sebuah mahasiswa dengan kemampuan otak yang cerdas, dan saya rasa kecerdasan kita bila dimanfaatkan untuk merubah bangsa ini menjadi lebih baik dan memperbaiki segala keterpurukan bangsa ini di berbagai sektor kehidupan.